Archive for November, 2007|Monthly archive page

Geng Motor Bandung, Penyebab dan Solusi

XTC, Brigez, GBR, dan sejumlah nama-nama geng motor lainnya sudah bukan nama yang asing bagi sebagian besar masyarakat Bandung. Nama-nama geng ini tersebar di mana-mana lewat coraetan-coretan cat semprot baik di tembok-tembong nganggur maupun di rolling door. Hal ini memberikan gambaran betapa tidak bertanggungjawabnya perbuatan mereka, hanya untuk namanya dikenal masyarakat, mereka tega mencorat-coret tembok atau rolling door yang mungkin di jaga agar tetap bersih oleh pemiliknya.

Perang antar geng motor kerap meminta korban luka hingga korban jiwa. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, saat ini aksi geng motor sudah bukan tawuran antar geng lagi, namun sudah melibatkan masyarakat umum sebagai korban mereka. Anggota geng motor sudah semakin berani melakukan kebrutalan, bahkan polisi dijadikan korban kebrutalan mereka seperti yang terjadi di Garut terhadap Bripda Regi Marwan Gustaman, pada sabtu malam (27/10). Bayangkan, sama polisi saja berani melakukan penusukan, bagaimana kepada masyarakat biasa?

Namun, sebenarnya apa yang melatarbelakangi para remaja banyak yang memilih menjadi anggota geng motor? Dan bagaimana solusi tepat untuk menghadapi masalah tersebut?

 Banyak faktor

Tentunya sangat banyak faktor penyebab remaja terjerumus ke dalam kawanan geng motor. Namun, salah satu penyebab utama mengapa remaja memilih bergabung dengan geng motor adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh terlalu sibuknya kedua orang tua mereka dengan pekerjaan, sehingga perhatian dan kasih sayang kepada anaknya hanya diekspresikan dalam bentuk materi saja. Padahal materi tidak dapat mengganti dahaga mereka akan kasih sayang dan perhatian orang tua.

Pada dasarnya setiap orang menginginkan pengakuan, perhatian, pujian, dan kasih sayang dari lingkungannya, khususnya dari orang tua atau keluarganya, karena secara alamiah orang tua dan keluarga memiliki ikatan emosi yang sangat kuat. Pada saat pengakuan, perhatian, dan kasih sayang tersebut tidak mereka dapatkan di rumah, maka mereka akan mencarinya di tempat lain. Salah satu tempat yang paling mudah mereka temukan untuk mendapatkan pengakuan tersebut adalah di lingkungan teman sebayanya. Sayangnya, kegiatan-kegiatan negatif kerap menjadi pilihan anak-anak broken home tersebut sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan eksistensinya.

Faktor lain yang juga ikut berperan menjadi alasan mengapa remaja saat ini memilih bergabung dengan geng motor adalah kurangnya sarana atau media bagi mereka untuk mengaktualisasikan dirinya secara positif. Remaja pada umumnya, lebih suka memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Namun, ajang-ajang lomba balap yang legal sangat jarang digelar. Padahal, ajang-ajang seperti ini sangat besar manfaatnya, selain dapat memotivasi untuk berprestasi, juga sebagai ajang aktualisasi diri. Karena sarana aktualisasi diri yang positif ini sulit mereka dapatkan, akhirnya mereka melampiaskannya dengan aksi ugal-ugalan di jalan umum yang berpotensi mencelakakan dirinya dan orang lain.

 Solusi Alternatif

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Oji Mahroji, menginstruksikan kepada seluruh Kepala Sekolah agar tidak segan-segan menindak siswanya yang terbukti terlibat dalam organisasi geng motor, kalau perlu dikeluarkan dari sekolah, PR senin (23/10). Diharapkanan, tindakan tersebut dapat menekan jumlah anggota geng motor dan aksi brutal mereka. Namun, tindakan tersebut tidak sepenuhnya efektif. Butuh keberanian yang besar dan beresiko tinggi untuk melakukannya.

Tahun 1998, seorang guru SMK Negeri di Bandung dihadang ditengah perjalanannya menuju rumah oleh salah seorang siswanya, teman saya, yang menjadi salah satu anggota XTC. Kepala Sekolah dan jajaran guru salah satu SMA Negeri yang terkenal sebagai sarang geng motor di Bandung, tidak dapat berbuat apa-apa untuk membubarkan organisasi geng motor di sekolahnya. Konon katanya, siswa yang menjadi anggota geng motor di sekolah tersebut dikader oleh para alumninya. Ketika pihak sekolah berniat menutup akses para alumni tersebut agar tidak terjadi kontak dengan siswa, mereka mendapat ancaman sekolah akan dibakar. Kontan, pihak sekolah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mengingat ke brutalan yang telah mereka lakukan tidak sebatas ucapan saja. Demikian tidak berartinya sekolah di mata mereka.

Salah satu solusi yang bisa memperbaiki keadaan mereka secara efektif adalah peran; kepedulian; dan kasih sayang orang tua mereka sendiri. Solusi ini akan lebih efektif, mengingat penyebab utama mereka memilih geng motor sebagai bagian kehidupannya adalah karena mereka merasa jauh dari kasih sayang orang tua. Dalam menterapi anaknya yang sudah terlanjur terlibat anggota geng motor, orang tua bisa bekerja sama dengan psikolog yang mereka percayai. Sehingga secara pasikologis sedikit demi sedikit anak akan mendapatkan kembali kenyamanan berada dalam kasih sayang orang tua.

 Penanaman Nilai-nilai Agama

Sebagai upaya preventif terhadap peningkatan jumlah anggota geng motor di kemudian hari, perlu dilakukan penanaman nilai-nilai agama sejak dini. terutama tentang akhlaq (moral dan etika). Dengan begitu anak akan mengetahui mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sehingga pada saat mereka sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat mereka tahu batasan-batasan dan aturan yang harus dipatuhi.