Archive for September, 2008|Monthly archive page
Mencuri
“Kenapa kamu mencuri tip yg ada di dalam mobil?” kata polisi kepada sahli,waktu diperiksa di kantor polisi.
“Terpaksa, pa,” kata sahli
“Terpaksa gimana? gak punya uang untuk makan?”
“Iya dari pagi saya mencari kantor polisi, tapi tidak ketemu terus nanya ke temen, malah diem aja. ya udah…saya punya akal.Supaya kantor polisi bisa ketemu, ya saya nyoba maling tip di mobil dan buktinya saya bisa kesini, ke kantor polisi”
“Trus, ngapain kamu nyari kantor polisi segala?”
“I..iii…itu, pa…mau membuat…Surat Kelakuan Baik
dari yukketawa.blogspot.com
Peran Media Dalam Dakwah Islam
Di Barat, khususnya di AS dan negara-negara Eropa, memanfaatkan media massa untuk menghantam Islam. Hingga kini, beberapa film bioskop dan televisi yang menghina Islam, telah ditayangkan. Sebagai contoh, film Fitna adalah salah satu film yang benar-benar menyimpangkan Islam dan Al-Quran. Lebih dari itu, berita-berita sedemikian rupa dikemas media-media massa Barat untuk mengambarkan penganut ajaran Islam yang radikal, sadis, dan terbelakang. Hal itu dapat dilihat dari pemberitaan media-media Barat yang langsung menuding “Islam garis keras, atau Islam militan” sebagai pelaku pemboman Hotel Marriott di Islamabad Pakistan, yang dibom pada hari sabtu (20/9). Padahal mereka belum memiliki bukti untuk menuding Islam sebagai pelaku pemboman.
Tudingan-tudingan seperti itu, sudah biasa dilakukan media Barat terhadap Islam. Bahkan pemutarbalikan fakta seperti yang terjadi di Palestina, Irak dan Afghanistan berani mereka lakukan, walaupun bertentangan dengan kode etik jurnalis. Media-media Barat dari koran, radio hingga televisi, secara kompak mempropagandakan anti Islam melalui artikel dan karikatur-karikatur yang mendiskreditkan Islam. Denmark adalah negara yang cukup diikenal mempublikasikan karikatur penghinaan terhadap Nabi Besar Muhammad Saww, bahkan hal itu dilakukan hingga beberapa kali.Ketika terjadi pencemaran nama Islam, bahkan sampai pelecehan islam, umumnya, umat islam hanya melawan dengan lisan. Mengegalar demontrasi dengan orasi dari berbagai kalangan. Pertanyaannya, apakah upaya tersebut berpengaruh terhadap pengembalian citra islam yang sudah dinegatifkan? Jawabannya, tidak. Karena pencitraan negatif yang dilakukan dunia Barat terhadap islam dengan senjata media ini, tentunya hanya akan dapat dilawan dengan senjata media juga.
Orang-orang yang membenci Islam terus melancarkan perang pemikiran, ghazwul fikri, dengan bantuan media. Dapat kita lihat dua fenomena beberapa waktu yang lalu, bagaimana komentar media terhadap seorang ustadz yang berpoligami dan kepada anggota dewan, yang terhormat, yang terlibat kasus perzinahan dan perselingkuhan, pada saat yang sama. Berita mana yang mengundang reaksi lebih keras? Sungguh sangat memprihatinkan, seorang ustadz yang berpoligami terlihat lebih jelek dari pada anggota dewan yang berzina dimata masyarakat, gara-gara pemberitaan yang tidak seimbang dan komentar-komentar sinis dari media.
Ada sebuah contoh kekuatan media yang dapat memutar balikan pandangan negatif warga Amerika terhadap Islam hanya dalam tiga hari. Informasi ini saya dapatkan dari seorang Dosen komunikasi politik. Pada musim haji tahun 1998, seorang jurnalis CNN berkebangsaan Pakistan meminta cuti untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus meliput ritual ibadah haji secara live. Setelah CNN memberikan izin, berangkatlah sang jurnalis ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus melakukan peliputan berjalannya ritual ibadah haji.Dia mengambil gambar di setiap momen. Pada saat thawaf, dia ambil gambarnya, menjadi pemandangan yang sangat indah. Pada saat wukuf, dia naik ke atas bukit paling tinggi di Arafah, dia mengambil gambarnya, dan menjadi pemandangan yang sangat indah pula. Demikian juga saat Sa’I dan Jumrah, dia jadikan momen-momen itu sebagai sebuah tayangan yang indah dilihat.Hasil liputan sang jurnalis CNN ini, disiarkan secara langsung selama tiga hari berturut-turut oleh public television Amerika. Ajaibnya, citra negatif Islam yang sudah mengakar, negatif, di masing-masing benak warga Amerika berubah positif dalam tiga hari, karena melihat sedikit keindahan Islam dalam tayangan ibadah haji. Hari keempatnya pemerintah Amerika melarang penayangan tersebut, karena berpotensi menghancurkan agenda-agenda yang sudah mereka susun rapi untuk menghancurkan Islam.
Melihat kekuatan media massa yang begitu besar terhadap pembentukan persepsi masyarakat, maka Islam perlu memanfaatkan media sebagai alat transformasi menyampaikan pesan-pesan Quran dan Sunnah kepada seluruh manusia. Dakwah islam bisa disampaikan melalui media cetak, TV, Radio, dan internet. Karena media seperti sebuah pisau, dia bisa bermanfaat jika digunakan untuk mengiris buah-buahan, sekaligus berbahaya jika digunakan untuk menusuk orang.
KPI ke depan
Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung, gelar acara dialog interaktif, antara pihak jurusan dan seluruh mahasiswa jurusan KPI, di gedung Fakultas Dakwah, sabtu (23/2). “Acara ini diselenggarakan yaitu untuk mensosialisasikan dan membahas persoalan yang ada di sekitar jurusan KPI sendiri”, ungkap ketua jurusan Drs. Enjang AS. Msi., MAg.
Sebagai salah satu program studi yang diunggulkan pada fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurusan KPI saat ini dan kedepannya akan memusatkan pengkajian pada dakwah biahsan al-qaul berupa tabligh dengan pendekatan wahyu (istinbath), interdisipliner (iqtibas) dan kajian sosial (istiqna), sehingga tidak memandang adanya dikhotomi ilmu (agama dan umum) melainkan sebagai entitas yang integred dan integral, hal ini dijelaskan ketua jurusan dalam paparannya. “Dan ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan (sarjana dakwah) yang beriman dan bertakwa, serta memiliki daya tawar yang diperhitungkan di tengah masyarakat”, ungkapnya pula.
Acara yang bertemakan ”Kupas Tuntas Masalah KBM dan Jurusan KPI” ini, disambut hangat oleh semua mahasiswa jurusan KPI dan suasana dialog pun cukup atraktif. Mulai acara berlangsung sampai akhir acara, mahasiswa yang hadir sangat antuisias dengan program-program jurusan yang dipaparkan oleh ketua jurusan. “Kita harapkan adanya dialog seperti ini dapat meningkatkan kualitas jurusan dan mahasiswa, sehingga prospek jurusan ke depan lebih jelas”, tutur mahasiswa disela acara berlangsung.
“Dengan dasar yang dirumuskan dalam visi jurusan, “menjadi program studi professional dalam bidang tabligh (komunikasi dan penyiaran) untuk turut membangun nilai-nila social dan institusional sesuai dengan utama dakwah islam, diharapkan mahasiswa menjadi calon cendekiawan muslim (ulul albab) yang beraqidah dan berfiktrah islami serta berakhlak mulia yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tabligh”, tegas ketua jurusan.
Selain Para dosen yang ikut hadir dalam acara tersebut, hadir pula direktur Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) yang sekaligus membuka acara. Juga dai kondang KH. Jujun Junaedi ikut menghadiri acara tersebut dan memberikan sambutan penuh semangat sebagai motifasi kepada seluruh mahasiswa KPI.
Dalam sambutannya Dai’ kondang Jujun Junaedi mengatakan, bahwa dalam pencapaian tujuan program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam harus disusun dalam bentuk langkah strategis. “Adapun langkah strategis yang mesti ditempuh adalah pertama Pasitioning, yakni adanya jaminan mutu lulusan jurusan KPI. kedua Differentiation, yaitu sesuatu yang dapat diunggulkan dan diandalkan oleh jurusan KPI. Ketiga Branding, yakni pencitraan posirif terhadap jurusan dan alumni jurusan KPI, papar Jujun.
Setelah adanya pemaparan dari pihak jurusan dan sambutan-sambutan sebagai motipasi kepada mahasiswa KPI, mahasiswa pun merasa puas dengan hal terebut. “Jadi tidak ada lagi alasan bagi mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam untuk tidak merasa percaya diri dengan masa depan jurusan”, ungkap ketua jurusan Drs. Enjang AS. Msi., MAg.
Sumber: jurnalistik UIN SGD
Doa Dibalik Nama
Shafiyah Almujahidatudzdzakiyah, demikian aku dan istriku memberikan nama pada anak kami yang pertama. Sebuah nama yang kurasa mewakili harapan sebagai seorang ayah, yang menginginkan anak shaleh, cerdas, penyelamat dunia akhirat.
Nama yang kuberikan bukan tanpa makna. Aku sungguh tidak setuju dengan ungkapan “apalah arti sebuah nama”. Nama bagiku adalah cermin harapan orang tua, maka aku memberi nama anakku sarat dengan muatan doa.
Shofiyah, memiliki arti wanita suci atau bersih. Nama ini saya ambil dari nama seorang sahabat Rasulullah saw, sekaligus bibi beliau, Shafiyah binti Abdul Muthalib. Wanita pemilik mental baja dan keberanian tingkat tinggi, seperti kakaknya Hamzah bin Abdul Muthalib. Namanya terpatri dengan tinta emas dalam sejarah perjalanan islam, ketika seorang laki-laki, mata-mata Yahudi, sedang mengendap-endap memantau kelemahan barisan Islam dalam perang khandaq, Shafiyah melihatnya, dan tanpa ragu dan tanpa takut dia menyerang laki-laki tersebut, memukulnya sampai mati. Harapan dibalik nama ini, anak kami menjadi seorang yang senantiasa menjaga kesuciannya, baik fisik maupun hatinya.
Almujahidatudzdzakiyah, berasal dari dua kata Mujahidah dan Dzakiyah. Mujahidah adalah pejuang atau ksatria. Sementara Dzakiyah adalah cerdas. Dua kata tersebut digabungkan sebagai naat man’ut (kaidah nahwu), sehingga memiliki arti pejuang wanita yang cerdas.
Harapan dibalik nama belakangnya ini, anak kami menjadi seorang pejuang Islam yang cerdas, yang memiliki keberanian tinggi dalam kebenaran; bermental baja; memiliki fighting spirit yang tinggi; survive ; tidak bergantung kepada yang lain, kecuali kepada Allah; dan tentunya menjadi bagian dari garda pembela Islam.
Demikianlah nama anak kami yang pertama. Semoga kami diberikan kemampuan dan kemudahan mendidiknya, sehingga harapan dan doa dibalik nama ini terkabul. Amien.
Ada Yang Memperhatikan Kita!
Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dg tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus. Dg tangannya yg lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke dalam bus mencari-cari bangku yg kosong dg tangannya. Setelah yakin bangku yg dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat. Satu tahun sudah, Yasmin, wanita muda itu, mengalami buta.
Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yg penuh dg ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di linkungannya.
Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yg selama ini dicita-citakan. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yg sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya. “Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo’a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.
Di antara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yg begitu penyayang dan setia, Burhan. Burhan adalah seorang prajurit TNI biasa yg bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Yasmin dg seluruh hatinya. Ketika mengetahui Yasmin kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Yasmin tenggelam ke dalam jurang keputus-asaan. Burhan ingin menolong mengembalikan rasa percaray diri Yasmin, seperti ketika Yasmin belum menjadi buta. Burhan tahu, ini adalah perjuangan yg tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit.
Karena buta, Yasmin tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dg terhormat. Burhan mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dg harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Yasmin bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar Burhan? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan.
Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yg akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yg berkecamuk di dalam hati Yasmin yg putus asa. Tapi Burhan membimbing jiwa Yasmin yg sedang frustasi dg sabar. Dia merelakan drinya untuk mengantar Yasmin ke sekolah, di mana Yasmin musti belajar huruf Braile. Dg sabar Burhan menuntun Yasmin menaiki bus kota menuju sekolah yg dituju. Dg susah payah dan tertatih-tatih Yasmin melangkah bersama tongkatnya. Sementara Burhan berada di sampingnya. Selesai mengantar Yasmin dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Burhan mengantar dan menjemput Yasmin. Lengkap dg seragam dinas security.
Tapi lama-kelamaan Burhan sadar, tak mungkin selamanya Yasmin harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Yasmin harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya. Dg hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Yasmin tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Yasmin, bagaimanapun juga masih terpukul dg musibah yg dialaminya. Seperti yg diramalkan Burhan, Yasmin histeris mendengar itu.Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. “Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Yasmin. “Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.” Burhan hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yg musti dilakukan. Mau tak mau Yasmin musti terima. Musti mau menjadi wanita yg mandiri.
Burhan tak melepas begitu saja Yasmin. Setiap pagi, dia mengantar Yasmin menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Yasmin akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dg tongkatnya. Burhan menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Yasmin bisa pergi sendiri, dg tenang Burhan pergi ke tempat dinas. Sementara Yasmin merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yg begitu setia dan sabar membimbingnya. Memang tak mungkin bagi Burhan untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab Burhan juga punya pekerjaan yg harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yg dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Yasmin yg dulu, yg tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.
Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Yasmin menjalani rutinitasnya belajar, dg naik bus kota sendirian. Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, “saya sungguh iri padamu”. Yasmin tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. “Anda bicara pada saya?” ” Ya”, jawab sopir bus. “Saya benar-benar iri padamu”. Yasmin kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dg tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri?”Apa maksud anda?” Yasmin bertanya penuh keheranan pada sopir itu. “Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dg seragam militer selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu dg harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yg memperhatikan dan melindungimu”.
Air mata bahagia mengalir di pipi Yasmin. Walaupun dia tidak melihat orang tsb, dia yakin dan merasakan kehadiran Burhan di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Burhan telah memberinya sesuatu yg lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yg tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yg membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.
————————————–
Kita ibarat orang buta
Yg diperintahkan bekerja dan berusaha
Kita adalah orang buta
Yg diberi semangat untuk terus hidup dan bekerja
Kita tak bisa melihat Tuhan dan malaikat
Tapi Dia terus membimbing
Dia memompa semangat kita
Cemas dan khawatir dg langkah kita
Dan tersenyum puas
Melihat kita berhasil melewati ujian-NYA
Sumber: dudung.net
Guru Teladan
Subrahmanyan Chandrasekhar, adalah seorang dosen di Universitas Chicago. Beliau adalah seorang doktor Astrofisika kelahiran Lahore, India, pada tahun 1910.
Ditahun ajaran 1940, saat itu, ketika masuk semester baru, Beliau sedang berkutat dengan penelitiannya. Laboratorium penelitiannya ada di atas bukit, dan dia harus turun gunung dua kali seminggu untuk memberikan kuliah. Tentunya ini adalah sebuah perjuangan yang sangat melelahkan, harus turun dan naik kembali bukit hanya untuk mengisi kuliah. Anda tahu berapa mahasiswa yang Beliau ajar? 2 orang, Chin Neng Yeng dan Chun Dai Lo. Walau kondisinya seperti itu, Chandrasekar tetap mengajar dengan penuh dedikasi.
Buah dari hasil pengajarannya yang serius terlihat pada tahun 1957, ketika Chin Neng Yeng dan Chun Dai Lo meraih hadiah Nobel. Chandrasekar sendiri baru meraih Nobel bidang Fisika di tahun 1983.
Jika kita bandingkan dengan kondisi saat ini, sangat mengenaskan. Tidak sedikit dosen yang nggak jadi ngajar karena jumlah mahasiswanya terlalu sedikit, sehingga kelas dibubarkan dan mahasiswa yang menjadi korban. Tidak sedikit pula seorang ustadz atau penceramah menolak permintaan jamaahnya karena merasa gengsi dengan jumlah mustami’ yang sedikit.
Pelajaran yang dapat dipetik dari keteladanan Subrahmanyan Chadrasekhar adalah, didiklah murid-murid kita, ana-anak didik kita, atau mahasiswa-mahasiswa kita dengan cinta, dengan penuh dedikasi dan kesungguhan. Karena masa depan peradaban manusia, ada ditangan anak-anak didik kita yang sekarang kita ajari.
Leave a Comment
Leave a Comment
Leave a Comment
