Archive for October, 2008|Monthly archive page

Obama, Timur Tengah, dan Islam

Pemilu AS tinggal menunggu hari. Tepat pada 4 November nanti dunia akan menyaksikan perhelatan yang menentukan kepemimpinan negara yang kini tengah sekarat akibat akumulasi sistem ribawi.

Tentu, wajah dunia empat tahun ke depan setidaknya sedikit banyak akan dipengaruhi oleh hasil pemilihan ini. Sementara itu, gempuran media internasional yang begitu gencar menyoroti Obama menjadikan umat Islam lalai akan sebuah isu penting, visi Obama bagi dunia Islam khususnya di Timur Tengah.

Sosok Obama yang dianggap sebagai tokoh revolusioner dengan mendobrak tradisi White Anglo-Saxon Protestan (WASP) kini dipercaya akan membawa banyak perubahan dengan slogannya Change, We Can Believe in! Namun, benarkah demikian? Read more »

Dukung Fatwa MUI Tentang Pengharaman Rokok

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) berencana megeluarkan fatwa rokok haram secara bertahap. Klasifikasi tahapan didasarkan pada kategori usia. detiknews.com (27/10/08)

Kita tidak akan kesulitan mencari orang merokok. Di warung, di jalan, di bis kota, di angkot, di mall, dimana-mana dengan mudah kita akan mendapatkan orang merokok. Justru yang sulit adalah menghindar dari perokok ketika kita berada di tempat-tempat umum. Padahal, semua orang tahu bahwa perokok pasif memiliki resiko lebih besar ketimbang perokok aktif, namun sepertinya, empati para perokok sudah mati, hilang bersama asap yang keluar dari mulut mereka. Read more »

Gorontalo Yang Menakjubkan

(catatan harian: 30 Des 2007, pukul 22.20 WIB)
Saya sampai di Bandara Jalaludin kurang lebih pukul 23.00 WITA hari Senin, 17/12/07, setelah pesawat Sriwijaya Air, yang saya tumpangi, transit dahulu di Hasanudin, Makasar. Bandara begitu sepi karena pesawat yang saya tumpangi adalah pesawat terakhir yang mendarat di Gorontalo. Hampir pukul 24.00 saya sampai di rumah saudara yang mau menampung saya dkk, di rumahnya yang tergenang banjir. Kabarnya, Gorontalo sudah tergenang seminggu sebelum saya datang, dan rumah ini kena banjir dari depan rumah sampai ruang tamu. Akibatnya, saya dkk harus nyeker (membuka alas kaki) ketika turun dari mobil. Untung, ruang keluarga mereka lebih tinggi lantainya, sehingga saya dkk sempat dijamu dengan makanan-makanan khas padang. Lumayan, belum makan malam.

Ketakjuban pertama Read more »

Undangan Studium General

PENGUMUMAN

KEPADA SELURUH MAHASISWA KPI DIWAJIBKAN MENGIKUTI:

STUDIUM GENERAL PADA HARI SABTU, 1 NOVEMBER 2008, JAM 09.00 SD. SELESAI.

DENGAN TEMA “DAKWAH MELALUI GERAKAN POLITIK”, DENGAN PEMBICARA TB. IMAN ARYADI (ALUMNI KPI ‘93, ANGGOTA DPRD DAN KETUA KNPI PROVINSI BANTEN). BERTEMPAT DI RUANG DOSEN FAK. DAKWAH DAN KOMUNIKASI

Apa Yang Hilang, kalau NU, Persis, atau PKS masuk Masjid?

Saya melibatkan diri dalam obrolan ringan bersama beberapa tokoh masyarakat, selepas shalat dhuhur di daerah kakak ipar saya sewaktu mudik lebaran kemarin. Tema obrolan tidak jelas. Dari mulai membicarakan kondisi akhlaq pemuda yang memprihatinkan, pengalaman i’tikaf 10 hari terakhir ramadhan, sampai membicarakan ormas-ormas islam yang sekarang semakin banyak. “Kalau dulu masyarakat hanya mengenal NU, Persis, Muhamadiyah, maka sekarang masyarakat mengenal juga PKS, Hizbut Tahrir, Arqom, Salafi, Jamaah Tabligh, Al-Irsyad, bahkan sampai NII,” papar salah satu sesepuh masjid tersebut.

Ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya, yaitu sebuah anekdot atau guyonan salah satu peserta “diskusi.” Read more »

Dua Pandangan Tentang Kaya-Miskin

Tidak sedikit orang yang memiliki harta berlimpah, rumah megah, mobil mewah selalu merasa kekurangan. Walaupun berlimpah harta benda, manusia macam ini sangat susah berbagi dengan orang lain. Jangankan memberi, untuk dirinya saja, harta yang dimiliki masih dirasakan kurang. Mereka merasa dirinya masih miskin. Alhasil, orang seperti ini akan terus berambisi mengumpulkan harta untuk memenuhi kepuasannya dengan segala cara, tidak peduli halal-haram, walaupun merugikan negara sampai milyaran rupiah, seperti yang dilakukan oknum-oknum pejabat pemerintahan Indonesia saat ini.

Tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta berlimpah. Rumahpun sangat sederhana, bahkan masih ngontrak. Jangankan punya mobil mewah, sepedapun mereka tidak punya. Tapi, subhanallah, mereka selalu merasa cukup dengan nikmat yang mereka dapatkan, mereka selalu mampu bersyukur, bahkan dengan segala kekurangannya, mereka mampu mengulurkan bantuan materil berbagi dengan orang lain. Bukankah orang seperti ini adalah orang kaya?

Dari gambaran diatas, ada dua makna berbeda tentang kaya & miskin. Pertama, kaya & miskin sebagai realitas material. Kaya & miskin dalam pandangan ini diukur dengan kepemilikan harta benda. Kaya & miskin dalam pandangan ini adalah sebagai sebuah relaitas sosial yang menyebabkan roda kehidupan terus berjalan. Orang kaya dan orang miskin, dalam pandangan ini, saling membutuhkan. Orang kaya membutuhkan pekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan dia siap membayar pekerja tersebut. Sementara orang miskin membutuhkan pekerjaan, agar dia mendapatkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya sehari-hari.

Kedua, kaya & miskin sebagai realitas inmaterial. Dia tidak dapat diukur dengan kepemilikan harta benda. Buktinya, banyak orang yang sudah memiliki harta berlimpah tapi masih melakukan korupsi yang merugikan negara sampai milyaran rupian, karena dia masih mereasa kekurangan. Sementara banyak pula orang miskin harta, tapi dia merasa berkecukupan bahkan mereka mampu berbagi dengan orang lain yang membutuhkan bantuannya. Kaya dan miskin disini adalah berkaitan dengan persepsi, pola pikir, dan mental spiritual. Semakin positif persepsi seseorang, semakin mudahlah dia merasa cukup dengan segala pemberian Tuhannya, dan semakin mudah pula dia berbagi dengan orang lain.

Mana yang lebih penting untuk dibangun? kekayaan materi atau kekayaan mental? Jajaran kaum sufi memiliki satu pandangan bahwa kekayaan sesungguhnya adalah kekayaan jiwa, “ghinan-nafsi.” Secara pribadi, saya berpandangan bahwa dua-duanya harus dibangun, dua-duanya harus dikejar, kekayaan materi dan kekayaan mental. Islam mengajarkan, “Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah,” artinya orang yang memberi lebih baik daripada orang yang diberi. Kalau seseorang tidak memiliki materi, bagaimana dia bisa memberi kepada orang lain? Dengan demikian, kekayaan materi penting dibangun agar kita bisa menjadi solusi bagi manusia yang lain, demikianlah Islam mengajarkan kita.

Kekayaan mental juga penting untuk dibangun. Dengan kekayaan mental, seseorang bisa menjadi orang yang optimis, selalu merasa cukup dengan nikmat yang diberikan Tuhannya, dan mampu bersyukur dengan itu. Sehingga dia tidak menghalalkan segala cara untuk terus menumpuk hartanya, apalagi sampai merugikan negara dengan melakukan korupsi milyaran rupiah. Hanya orang-orang yang memiliki kekayaan mental yang mampu mengulurkan tangan, berbagi dengan saudara dan teman.

Insya Allah, dengan membangun keduanya secara seimbang, akan melahirkan Abdurahman bin Auf-Abdurahman bin Auf baru yang mampu meraup keuntungan materi yang sangat besar dalam setiap usahanya, tapi hasil usahanya bukan untuk kemegahan dirinya semata, melainkan Dia gunakan sebagian besarnya untuk membantu saudara, teman, tetangga, dan semua orang yang membutuhkan.

Demikianlah, dalam pandangan saya, Islam mengajarkan tentang konsep kekayaan.

Alhamdulillah, Saya mendapat masalah!

Life is Problem, hidup adalah masalah. Manusia yang masih hidup pasti akan menjumpai masalah. Selama manusia masih bernafas, masalah akan datang tanpa diundang. Sehingga yang harus dipikirkan bukan bagaimana menghindari masalah atau lari dari masalah, tapi harusnya berpikir bagaimana menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah.

Setidaknya ada dua hal yang akan kita dapatkan ketika kita mendapat masalah. Pertama masalah/ujian adalah tarbiyah (pendidikan) yang diberikan kepada kita untuk semakin mendewasakan dan mematangkan jiwa kita. Semakin tinggi dan semakin berat ujian yang datang, maka akan semakin tinggi juga kualifikasi diri yang akan dimiliki. Seperti seorang yang melakukan fitness dengan mengangkat barbel. Semakin besar dan berat barbel dia angkat, maka akan semakin besar juga otot yang terbentuk. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka akan semakin rumit juga ujian kenaikan tingkat yang dihadapi. Tidak mungkin ujian kenaikan tingkat/kelas untuk  siswa kelas 3 SD sama dengan mahasiswa tingkat 3.

Kedua, masalah yang datang kepada kita adalah bukti kasih sayang Allah kepada hambanya. Dalam sebuah hadits, Rasulullah pernah mengatakan bahwa bukti cinta Allah kepada hamba-Nya adalah Ia memberikan masalah pada hamba-Nya tersebut. Seorang guru yang masih sayang kepada siswanya, akan memberikan tugas-tugas yang tidak mudah supaya siswanya terbiasa menyelesaikan soal. Orang tua pasti akan menegur anaknya ketika melakukan kesalahan. Kalau guru atau orang tua sudah bersikap masa bodoh terhadap anaknya, itu adalah tanda sudah tidak sayang.

Dengan demikian, sebaiknya kita putar 180 derajat persepsi kita tentang masalah. Kalau dahulu kita memandang masalah sebagai beban, maka sekarang, pandanglah masalah media pendewasaan diri, latihan untuk menguatkan diri, dan yakini, masalah adalah bukti cinta ilahi. Dengan persepsi ini, kita akan jauh lebih siap menghadapi masalah yang datang, kapanpun, dimanapun, dan seberat apapun.

Satu hal lagi, Ada sebuah slide yang bisa kita jadikan sebagai bahan renungan dan alat pemutar persepsi kita tentang masalah. Untuk mendownload klik disini “wtc. Kesimpulan dari slide ini: “semakin panas airnya, semakin nikmat kopinya. Semakin besar masalahnya, semakin dewasa dan kuat kita dibuatnya!” Ketika persepsi kita sudah lebih positif dalam memandang masalah, maka besar kemungkinan kita akan bersyukur mendapat masalah, “Alhamdulillah, saya mendapat masalah.”

Sopir dan Majikannya

Alkisah, ada seorang majikan marah-marah karena sopirnya tidak berada di tempat pada saat dia membutuhkannya. Dia menelpon HP sopirnya, tidak diangkat. Kewajibannya sebagai seorang majikan sudah dia penuhi dengan baik. Memberi gaji bulanan sesuai UMR, mengganti biaya transportasi, kadang memberi bonus-bonus bulanan, mingguan, bahkan harian, sampai dia memberi handphone, supaya sopirnya mudah dihubungi pada saat-saat tak terduga dia membutuhkannya.

Sayangnya, walau si sopir sudah mendapatkan haknya secara penuh, dia tidak melaksanakan kewajibannya dengan baik. Saat jadwal mengantar ke kantor, dia terlambat datang. Mengantar anak-anak ke sekolah juga terlambat. Mengantar ibu ke pasar juga demikian. Bahkan suatu saat, jadwal mengantar majikan ke sebuah rapat penting, dia tidak datang sama sekali. Ketika majikannya menelpon ke handphonenya, tidak diangkat. Majikannya sudah tidak dapat memberikan toleransi, akhirnya si sopir dipecat.

Dengan analogi majikan dan sopir pribadi diatas, maka manusia adalah sopir sedangkan Allah adalah majikan. Allah memberikan rezeki berupa makanan, minuman, kesehatan, udara, dan lain sebagainya Allah berikan setiap hari secara gratis. Allah memberikan pendengaran, supaya manusia dapat mendengar panggilan-Nya. Allah memberikan penglihatan supaya manusia bisa mengetahui arah untuk memenuhi panggilan-Nya. Allah juga berikan kaki, supaya manusia bisa melangkah memenuhi panggilan-Nya.

Seandainya manusia, yang sudah mendapatkan hak-haknya secara penuh dari Allah, melalaikan kewajibannya. Ketika Allah memanggil kita lewat para muadzin-Nya, kita tidak mendengarkan. Ketika Allah memanggil kita untuk shaum di bulan ramadhan, kita tidak melaksanakannya. Ketika Allah memanggil kita untuk membayar zakat, kita tidak mengeluarkannya. Ketika Allah memanggil kita untuk datang ke Baitullah, kita tidak memenuhinya, padahal kita sebenarnya mampu melaksanakan. , Maka apa jadinya jika Allah “memecat kita”?

Betapa Indahnya Jam Tangan Anda

Presiden Amerika Serikat, John Kennedy, dan Presiden Meksiko, Adolfo Lopez, bertemu di Meksiko tahun 1962. Ketika mengedarai mobil, Kennedy memperhatikan jam tanganPresiden meksiko. Kennedy pun memuji Lopez: “Betapa indahnya jam tangan anda.” Lopez segera memberikan arlojinya kepada Presiden Amerika seraya berkata, “Jam tangan ini milik anda sekarang.” Kennedy merasa malu karena pemberian itu. Ia berusaha menolaknya, namun Presiden Meksiko menjelaskan bahwa di negerinya ketika seseorang menyukai sesuatu, sesuatu itu harus diberikan padanya. “Kepemilikian adalah masalah perasaan dan kebutuhan manusia, bukan milik pribadi.” Kennedy terkesan oleh penjelasan itu dan menerima arloji itu dengan rendah hati.

Tak lama kemudian, Presiden Lopez berpaling kepada Presiden Amerika dan berkata: “Aduh, betapa cantiknya istri anda.” Kennedy menjawab: “Silakan ambil kembali jam tangan anda.”
(Deddy Mulyana, Pengantar Komunikasi Antarbudaya)

Selamat Idul Fitri 1429 H

Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1429H. Taqabbalallahu Minna waminkum
Mohon maaf lahir bathin

-Asep Deni dan Keluarga-